INFO
Butuh Uluran Tangan, Bayi  8 Bulan Penderita Hidrosefalus

Butuh Uluran Tangan, Bayi 8 Bulan Penderita Hidrosefalus

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Sangat malang nasib Ainun, seorang bayi perempuan yang baru berusia 8 bulan menderita  penyakit Hidrosefalus.

Ainun merupakan  anak bungsu dari pasangan Suherman (45) dan Liawati (38). Keluarga yang berasal dari Desa Baru Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah ini, kini harus  menumpang sementara waktu di kos-kosan  (Mangkatip nama kos red), di Jalan C Bangas III bersama keponakannya yang sedang menempuh pendidikan di Kota Palangka Raya.

Saat disambangi sejumlah awak media, terlihat Ainun menahan sakit luar biasa akibat menderita penyakit Hidrosefalus tersebut. Ainun hanya bisa berbaring tanpa bisa bermain seperti layaknya anak-anak seusia dia, yang bisa dilakukan hanya bisa menangis dan terdengar suara batuk-batuknya disela-sela pangkuan ibunya.

Menurut penuturan Liawati, penumpukan cairan di rongga otak yang dialami anaknya itu sudah terlihat sejak berusia 3 bulan, dimana penumpukan cairan tersebut mengakibatkan tekanan pada otak yang membuat ukuran kepala Ainun  tambah membesar.

“Sejak pengidap penyakit ini, Ainun harus rutin ke rumah sakit, sampai harus menjalani operasi di RSUD Doris Sylvanus,” tuturnya, Jumat (6/12/3019).

Kembali dari peninjuanan awak media, terlihat Ainun hanya bisa berbaring ditempat tidurnya, Ainun juga harus menangis kesakitan ketika buang air kecil atau air besar. Saluran selang yang terhubung ke kepalanya itu kerap mengeluarkan cairan bersamaan saat dia buang air.

Sungguh menderita yang dirasakan Ainun, terlebih kehidupan kedua orang tuanya yang serba kekurangan, balita yang semestinya bermain dengan ceria harus berjuang melawan perihnya penyakit yang ia derita.

Disebutkan, Suherman, ayah Ainun kesehariannya adalah bekerja sebagai tukang bangunan harian. Penghasilannya pun tak sebanding dengan beban yang harus ia tanggung. Demi mengobati buah hatinya itu. Suherman rela pulang pergi dari Palangka Raya menuju Tamiyang Layang, Barito Timur (Bartim) untuk bekerja.

Ironisnya lagi, Liawati Ibunda Ainun ini ternyata juga menderita kelumpuhan pada kaki kanannya. Dimana menurut pengakuan Liawati, ia menderita kelumpuhan tersebut sudah cukup lama, dan harus menggunakan tongkat buatan suaminya yang berbahan kayu untuk berjalan dan melakukan berbagai aktivitas.

Terlebih Liawati pun harus beraktivitas ekstra dalam mengasuh dan merawat Ainun anak bungsunya itu setiap hari. Ia hanya bisa berharap dan berdoa semoga ada tangan-tangan dermawan yang bisa meringankan beban keluarganya.

“Sebenarnya kami mau pulang kampung, tapi karena harus rutin periksa  Ainun di rumah sakit makanya nggak bisa pulang. Kalau pulang melewati jalan yang berlobang, sangat dilarang dokter takut selang yang dipasang ke Ainun lepas,” terangnya.

Disisi lain Liawati mengatakan, pengobatan untuk anaknya ini tidak hanya selesai di Palangka Raya. Bahkan dalam waktu dekat, mereka akan dirujuk menuju rumah sakit yang ada di Kota Surabaya, Jawa Timur. 

“Kami ini dari kampung, untung aja disini ada keponakan yang bisa antar kami kesana kemari. Kalau ke Surabaya maka kami tidak ada sanak saudara  disana. Takut dan bingung nantinya disana harus tinggal dimana,” ucapnya terbata-terbata.

Hal yang lebih Liawati takutkan lagi, tidak lain uang simpananya untuk berobat Ainun sudah sangat menipis. Sementara sang suami masih terus bekerja keras mencari biaya pengobatan itu.

“Kami orang miskin seperti ini hanya bisa berharap, semoga ada yang mau membantu kami untuk mengobati Ainun,” harapnya dengan raut wajah bersedih. (MC. Isen Mulang.1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*