INFO
Gapura Sambut Kemerdekaan Mulai Terlupakan

Gapura Sambut Kemerdekaan Mulai Terlupakan

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Jika kita menengok kembali pada masa-masa lampau, katakan saja  dimasa lima tahun kebelakang. Dimana ketika itu, setiap menyongsong  HUT RI maka budaya gotong royong  membangun gapura  atau pintu gerbang  peringatan hari Kemerdekaan Indonesia  begitu kental dilakukan.

Semangat menyambut kemerdekaan Republik Indonesia dengan membangun gapura ini sempat melekat dan menjadi kebiasaan serta budaya bagi lingkungan masyarakat Kota Palangka Raya. Hal itu ditunjukkan warga setiap lingkungan RT/RW gotong royong membangun gapura dengan beragam bentuk.

Kala itu, setiap menjelang memasuki bulan Agsutus, lingkungan RT/RW, mulai dari orang tua, pemuda bahkan remaja terlihat kompak membangun gapura. Bahkan gapura yang dibangun sangat unik, dengan berbahan sederhana yang tidak memakan biaya besar.

Ada yang dibuat dari bahan kayu tipis, tebal, batang pohon, batang bambu dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan ciri khas gapura seperti bambu runcing yang nota bene menjadi senjata tradisional pejuang kemerdekaan  tempo dulu selalu melekat dalam setiap bangunan gapura.

Terlepas dari itu semua, maka sayangnya budaya gotong royong membangun gapura  agustusan atau gapura kemerdekaan ini mulai terlupakan. Seolah- olah terkikis dengan kemajuan zaman.

Kalaupun ada terlihat gapura menyambut peringatan hari Kemerdekaan Indonesia, lebih kepada gapura permanen. Artinya masyarakat tidak perlu lagi ramai-ramai gotong royong membangun atau mendirikannya. Cukup tinggal menghiasnya saja.

Terlepas dari itu semua, maka membangun gapura permanen memang bukanlah hal yang salah. Hanya saja kerinduan akan budaya gotong royong membangun gapura alias gerbang perayaan hari kemerdekaan secara bersma sama, bisa, dikatakan sudah mulai luntur.

“Ya, terbukti, jika kita jalan-jalan  di beberapa lingkungan RT/RW, kita hanya mendapatkan gapura menyambut kemerdekaan yang sudah permanen. Sementara gapura yang berhiaskan bambu runcing, tapin beras (Nyiru) yang  diiberi warna merah dan putih, sudah langka tak terlihat,” ujar Unel, warga G Obos Palangka Raya.

Unel melihat, menyambut kemerdekaan sekarang ini jauh jika dibandingkan menyambut kemerdekaan seperti tahun tahun era 80-an, 90-an dan awal tahun 200- an.

“Saya ingat ketika kecil, setiap gang RT pasti dibangun gapura untuk menyambut HUT RI. Sepanjang jalan pun dihias pernak pernik hiasan menyambut kemerdekaan. Setiap rumah warga bertengger dengan gagah bendera merah putih. Maaf untuk sekarang orang sudah pada cuek bebek,” tukasnya.

Sementara Pemerhati Sosial Budaya Kalimantan Tengah yang juga akademisi, Timoteus Nusan mengakui, jika semangat menyambut kemerdekaan Republik Indonesia saban tahunnya kian merosot.

Kondisi ini kata dia, tentu disadari juga oleh pemerintah daerah. Terbukti setiap menjelang peringatan hari kemerdekaan, pemerintah selalu membuat edaran agar masyarakat melakukan pemasangan bendera merah putih ataupun menghiasi gapura di lingkungan masing-masing.

“Kalau sekarang harus diingat-ingatkan, sedangkan dulu kesadaran masyarakat lebih tinggi dibanding diingatkan,” ujarnya.

Menurut Timoteus, jika menilik peringatan hari bersejarah di Indonesia ini,  maka peringatan HUT RI sejatinya dapat menjadi momentum untuk membangun kebersamaan gotong-royong, kekompakan dan persaudaran di lingkungan masyarakat.

“Ya, sekarang ini, jangankan membangun gapura, menggelar berbagai lomba 17-an, seperti balap karung, lomba tarik tambang, makan kerupuk dan lainnya juga sudah mulai memudar,” kritiknya.

Memang disadari jika mengintari beberapa sudut kawasan Kota Cantik Palangka Raya, maka akan terlihat  gapura menyambut hari kemerdekaan ini sebagian besar sudah diubah menjadi lebih modern dan praktis atau permanen.

Kondisi ini sekali lagi tidakklah disalahkan, hanya saja  ada sesuatu yang hilang dalam kemajemukan masyarakat saat ini, dimana terkesan sudah tidak mampu lagi mempertahankan suatu kearifan lokal.

Ada kecenderungan masyarakat saat ini lebih mencari kemudahan saja. Lagi-lagi tidak salah, namun  pada saatnya nanti, cerita gotong royong membangun gapura yang penuh dengan kekentalan semangat perjuangan bakal sirna.

Pemerintah dalam kontek ini  perlu kiranya mensosialisasikan terkait pelestarian nilai-nilai kegotongroyongan. Seperti membudayakan kembali membangun gapura khas  kemerdekaan. Memang untuk hal ini akan sulit, tapi tidak salahnya pemerintah mencoba  membangkitkan kembali asa yang hilang tersebut. (MC. Isen Mulang/ Ferry)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*