INFO
Hari Museum Indonesia  Bentuk Eksistensi Museum

Hari Museum Indonesia Bentuk Eksistensi Museum

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Direktorat Jenderal Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Fitra Arda mengatakan, peringatan Hari Museum Indonesia yang diperingati setiap 12 Oktober, merupakan bentuk eksistensi museum di tengah masyarakat. 

“Museum di Indonesia selalu berupaya untuk mengembangkan diri agar perannya benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” kata Fitra dalam relisnya, Jum’at (12/10/2018) malam.

Dikatakan,  Indonesia saat ini memiliki 435 museum, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun perorangan atau masyarakat. Jumlah tersebut masih akan terus bertambah seiring dengan proses pembangunan beberapa museum baru.

Indonesia telah memiliki peraturan khusus museum, yaitu peraturan pemerintah nomor 66 tahun 2015 tentang museum. Di dalam peraturan tersebut terdapat 6 syarat utama museum, yaitu memiliki bangunan, koleksi, sumber daya manusia (SDM), pendanaan, visi misi, dan nama museum. 

Museum juga memiliki 3 tujuan utama yaitu pendidikan, pengkajian, dan kesenangan. Dibidang pengembangan museum, juga ada kebijakan revitalisasi museum, yang sebenarnya mencakup 6 aspek, yaitu manajemen, pencitraan, fisik, jejaring, program, dan SDM.

Sementara itu kata Fitra, terkait dengan peringatan Hari Museum Indonesia 2018 mengambil tema “Museum Kebanggaan Milenial”. Maka generasi muda yang saat ini sering disebut sebagai generasi milenial merupakan salah satu target utama museum. 

“Generasi ini sangat mudah mendapatkan informasi. Kapan saja dan di mana saja informasi itu bisa diperoleh, termasuk tentang museum. Ini adalah tantangan terbesar bagi museum-museum di Indonesia agar tetap menarik minat generasi milenial,” tulisnya.

Disisi lain lanjut Fitra, museum sekarang ini memiliki tantangan terbesar untuk bisa mengubah dirinya agar masuk didunia milenial. Museum harus melihat kecenderungan generasi milenial yang serba praktis, berbasis internet dan digital. Mereka juga kritis, dan keterlibatannya dalam dunia maya seperti media sosial sangat besar. 

Museum sebagai lembaga pendidikan sekaligus rekreasi sekarang ini harus bisa menawarkan sesuatu yang berbeda dengan dunia maya. Museum menawarkan pengalaman nyata, bukan hanya pengalaman virtual. 

“Melihat sesuatu yang nyata akan lebih bermakna daripada sekadar membaca atau melihat gambar. Melihat dengan mata kepala sendiri  adalah satu-satunya kunci yang bisa ditawarkan oleh museum,” cetusnya.

Maka itulah tambah Fitra, generasi milenial harus memanfaatkan museum sebagai gudang ilmu sekaligus ruang publik. Manfaatkanlah museum sebesar-besarnya untuk berbagai kegiatan yang terkait dengan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Selamat Hari Museum Indonesia. (MC. Isen Mulang.1)

 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*