INFO
Kaji Banding Penanganan Pencegahan IMS Ke Dinkes Kota Bandung

Kaji Banding Penanganan Pencegahan IMS Ke Dinkes Kota Bandung

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Dalam upaya optimalisasi  kajian Pengembangan Model Pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS) Kota Palangka Raya yang dilakukan oleh peneliti dari STIKES Eka Harap Palangka Raya bekerjasama dengan Pemko Palangka Raya melalui SOPD Balitbang, di dampingi Dinkes Kota Palangka Raya, Dinas Sosial Kota Palangka Raya, Dinas Pengendalian Penduduk KB Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kota Palangka Raya melaksanakan kaji banding ke Dinas Kesehatan Kota Bandung Provinsi Jawa Barat, Rabu, (9/10/2019).

Dengan tujuan menggali penanganan pencegahan HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS ) yang sudah berjalan sesuai dengan program yang telah di rencanakan oleh Dinas  Kota Bandung,  ungkap ketua tim peneliti STIKES Eka Harap,  Suryagustina.

Pemaparan yang disampaikan oleh tim analisis situasi HIV-AIDS  di Kota Bandung antara lain jumlah penduduk 2.507.888 jiwa, 30 kecamatan, 151 kelurahan, 80 Puskesmas, 35 RS, layanan konseling dan tes HIV 84 faskes dan 59 layanan IMS serta layanan perawatan dukungan pengobatan (PDP) 9 RS, PDP satelit, 1 klinik swasta, dan 3 rumah sakit.

Fakta penanggulangan IMS di Kota Bandung: kasus IMS masih terus meningkat, akses kelompok resiko tinggi kelayanan IMS masih rendah, masyarakat umum enggan datang ke layanan IMS karena merasa tidak beresiko, jumlah SDM dan layanan IMS yang memahami tatalaksana IMS sesuai pedoman masih terbatas, kelompok resiko tinggi lebih banyak mengakses layanan IMS tertentu, keterbatasan sarana, dan logistik pelayanan IMS, kampanye kondom oleh petugas pelayanan kesehatan belum optimal, masih banyak masyarakat beresiko mengakses klinik/ bidan/dokter swasta.

Pasien IMS di Faskes layanan IMS di Kota Bandung di mulai dari umur 14 tahun, kasus banyak terjadi pada usia 20-49 tahun yaitu pada usia reproduktif di kota Bandung sangat tinggi.

Strategi pengendalian IMS yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung yaitu: Menurunkan kemungkinan terkena infeksi, jika terpajan dengan cara menurunkan efisiensi penularan perpajanan dengan penapisan rutin; menurunkan pajanan dari orang yg terpajan dengan cara memakai kondom dan intervensi perubahan perilaku; menurunkan durasi infektifitas (memotong rantai penularan dan mencegah komplikasi) dengan deteksi dini (pencarian kasus, pengobatan yang efektif dan benar).

Suryagustina katakan hasil kaji banding ini sangat bermanfaat sebagai referensi untuk melengkapi kajian pengembangan model pencegahan IMS Kota Palangka Raya. (MC. Isen Mulang/tina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*