INFO

Kepala Disperindag se-Kalteng Kumpul di Palangka Raya Bahas Inflasi

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Kepala Bidang Ekonomi Pembangunan Kabupaten dan Kota seluruh Provinsi Kalimantan Tengah kumpul di Swissbel Hotel Danum, Palangka Raya, Selasa (2/5/2017).

Dari Palangka Raya hadir langsung Kepala Disperindag Aratuni Djaban. Para pejabat dari Kabupaten dan Kota ini dalam rangka mengikuti Workshop Capacity Building Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Kalimantan Tengah.

Dalam workshop ini para kepala Disperindag dan Kabag Ekonomi Pembangunan diberikan pembekalan mengenai teori inflasi, realisasi inflasi, prospek inflasi, dan pentingnya pengendalian inflasi dalam rangka menjaga kestabilan ekonomi.

Dalam workshop ini menghadirkan Guru Besar Universitas Lampung Prof Bustani Arifin dan Kepala Bank Indonesia Kalimantan Tengah, Wuryanto sebagai pembicara.

Dalam paparannya Wuryanto menjelaskan pada Maret 2017 inflasi Kalimantan Tengah tercatat 4,10 persen berada di atas nasional 3,61 persen.

Inflasi Kalimantan Tengah pada Maret 2017 tercatat berada di atas Kaltim, Kalsel, namun berada di bawah inflasi Kalbar dan Kaltara. Inflasi di Kalteng utamanya disebabkan oleh komoditas inti sebesar 3,13 persen.

Namun kondisi itu tidak lepas dari tingginya inflasi dari kelompok administered price yang memberikan andil inflas 2,06 persen akibat kebijakan pemerintah seperti penaikan harga BBM, mencabut subsidi listrik, dan peningkatan biaya administrasi STNK kendaraan.

Meski inflasi di Kalimantan Tengah selalu berfluktuasi, tapi Wuryanto memastikan kondisi inflasi di Bumi Tambun Bungai secara konsisten mengalami penurunan sejak didirikannya TPID pada 2012.

Sementara itu dalam sesi tanya jawab ada persoalan yang selama ini belum bisa dijawab secara gamblang oleh instansi teknis kenapa pemotretan untuk mengetahui kondisi inflasi maupun deflasi selalu dilakukan di Kota Palangka Raya dan Kabupaten Kotawaringin Timur.

Sedangkan daerah lain misalnya Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat juga perekonomiannya lebih maju, namun tidak dijadikan sebagai acuan untuk memotret kondisi inflasi.

“Padahal Pangkalan Bun punya bandara, pelabuhan, kondisi jalan bagus, dan harga kebutuhan lebih murah, tapi tidak dijadikan titip pantau, malah Palangka Raya yang tidak punya pelabuhan laut dan kebutuhan sembako didatangkan dari Banjarmasin malah dijadikan rujukan untuk mengetahui kondisi inflasi,” tanya Joko perwakilan Disperindag Kotawaringin Barat. (MC. Isen Mulang/nai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*