INFO
Mengintip Uniknya Lomba Balogo di Festival Isen Mulang

Mengintip Uniknya Lomba Balogo di Festival Isen Mulang

MEDIA CENTER,Palangka Raya – Riuh rendah serta sorak sorai yang dibalut suasana gembira terlihat di halaman Musium Balanga Kota Palangka Raya.

Ya, pada saat itu puluhan penonton tengah memberikan dukungannya kepada sekelompok remaja putri, yang saat itu sedang fokus-fokusnya mengarahkan bilah/panapak (bilah bambu) dengan panjang ukuran siku tangan orang dewasa.

Panapak itu difokuskan pada sebuah logo yang terbuat dari tempurung kelapa berbentuk atau menyerupai gambar daun hati dengan berdiameter ukuran tangan orang dewasa.

Balogo begitulah permainan yang sarat dengan karakter olahraga tradisional di Provinsi Kalimantan, termasuk di Kalteng. Dimana saat ini kembali dilombakan pada pelaksanaan Even akbar Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, yakni Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2019.

Bagi masyarakat Kalimantan pada umumnya dan Kalteng pada khususnya, maka permainan tradisional balogo, tentu tidak asing lagi. Anak-anak usia sekolah dasar hingga tingkat dewasa maupun orang tua akan mengenal permainan yang sejatinya saat ini masih kerap dimainkan atau hanya bisa dijumpai di lingkungan masyarakat pinggiran atau pelosok.

“Bagi orang luar Kalimantan, atau bahkan turis mancanegara pasti asing melihat permainan langka dan unik ini. Ya, ini salah satu kearifan lokal kita di Kalteng,” ungkap Gauri salah satu panitia kegiatan FBIM dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Kalteng.

‘Permainan balogo ini, memang jarang kita lihat di perkotaan, terutama yang dimainkan anak-anak. Sebab sudah hampir tergerus permainan modern. Terlebih diera saat ini serba online dan elektronik,” tukas Gauri lagi.

Permainan tradisonal ini kata dia baru bisa disaksikan pada momen-momen tertentu saja. Seperti halnya kegiatan seni budaya yang didalam rangkaian acaranya memuat kegiatan olahraga tradisonal.

“Nah, sejak awal pelaksanaan PBIM hingga pelaksanaan yang ke 26 kalinya even ini digelar, maka balogo selalu menjadi kategori olaharga tradisional yang dilombakan,” tuturnya.

Ungkap Gauri, upaya menempatkan olahraga tradisonal pada setiap pelaksaan FBIM ini penting dilakukan, mengingat selain permainan tradisional balogo, maka permainan sejenis khas Kalteng seperti lomba mangaruhi, maneweng, sepak sawut, serta lain sebagainya, yang bisa saja tergerus, jika tidak ada upaya bersama dalam hal pelestarian.

“Seharusnya kita bangga, sebab permainan ataupun olahraga khas Kalteng ini, rata-rata memiliki nilai-nilai kebersamaan. Seperti balogo dalam permainannya memerlukan kekompakan dan kerjasama,” ucapnya.

Sri, peserta lomba balogo FBIM asal Palangka Raya, saat dibincangi mengatakan, jika bermain logo sudah digandrunginya sejak kecil di kampung halamannya.

“Jika ada kelompok lawan kita yang kalah, maka sanksinya dagu lawan itu kita elus-elus . Begitulah asyiknya bermain balogo,” katanya.

Dalam permain balogo, lanjut Sri, nilai-nilai sportivitas sangat terlihat sekali, sehingga tidak ada yang merasa dicurangi. Ada kelompok atau pemain yang kalah, maka iya bisa menerima kekalahannya.

“Kita harus bersyukur, permainan khas Kalteng yang bersifat turun temurun ini masih terus ada. Meskipun hanya sebatas lomba diajang seni budaya,” ujarnya.

Adapun berdasarkan sejumlah literature yang dilansir, bahwa permainan atau olahraga balogo ini, sering dilakukan oleh anak-anak dan remaja termasuk dewasa, baik kategori pria maupun wanita. Balogo itu sendiri bisa dimainkan dengan jumlah pemain 2 sampai 5 orang atau lebih.

Disebut balogo, karena dalam permainan ini ada sejumlah media yang disiapkan. Seperti logo yang terbuat dari tempurung kelapa. Garis tengahnya sekitar 5–7 cm dan tebalnya sekitar 1–2 cm. Bentuk logo bermacam-macam, antara lain berbentuk segi tiga, layang-layang, daun dan bundar.

Dalam permainan balogo ini harus dibantu dengan sebuah alat yang disebut panapak atau billah bambu, yakng dijadikan sebagai stik atau alat pemukul yang panjangnya sekitar 40 cm dengan lebar 2cm. Fungsi panapak adalah untuk mendorong logo agar bisa meluncur dan merobohkan logo pihak lawan yang dipasang saat bermain.

Permainan balogo itu sendiri dapat dilakukan satu lawan satu atau secara beregu. Jika dimainkan secara beregu, maka jumlah pemain harus sama dengan jumlah logo yang dipasang oleh lawan.

Logo-logo itulah nantinya seberapa mampu atau banyak dirobohkan ataupun dipecahkan masing-masing, untuk melihat siapa pemenangnya. Jadi, begitulah permainan balogo yang jaman saat ini sudah kian langka dan unik. Semoga bisa kita lestarikan. (Penulis Ferry Santoso MC Palangka Raya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*