INFO

MINIMNYA PEMINAT WISATA SUSUR SUNGAI KAHAYAN, PERLU PENANGANAN SERIUS

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Saat ini para pelaku usaha wisata susur Sungai Kahayan kondisinya masih stagnan. Tidak ada kemajuan berarti, meskipun sebagian sarana dan prasananya sudah dibantu oleh Pemerintah Kota Palangka Raya.

Pemerintah Kota Palangka Raya sudah pernah membantu para pengusaha susur sungai melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat, berupa perbaikan kelotok atau perahu wisata yang dimiliki mereka, semua perahu dicat, diberi atap dan dilukis dengan ornamen khas daerah, pengemudi diberikan baju seragam dan semua perahu diberi baju pelampung, sebanyak 30 perahu di kawasan sungai Kahayan, mulai dari kawasan jembatan kahayan, kawasan flamboyan dan kawasan pelabuhan rambang.

Walaupun fasilitas semuanya sudah tersedia, namun minat para wisatawan untuk menikmati wisata susur sungai masih sedikit, saking minimnya pengunjung, dalam sebulan pendapatan yang diperoleh pemilik perahu hanya Rp500 ribu, tapi jika rame hasilnya juga lumayan. Apalagi saat ini sistem operasional diatur jadi seminggu cuma dua kali beroperasi. Sekarang objek wisata susur Sungai Kahayan sedang lesu. Meski demikian para pelaku wisata tetap menekuni jasa traveling ini hingga sampai kapan pun.

Menurut Yurdi, salah satu pelaku usaha susur sungai kepada Media Center, Jumat (17/3/2017) pagi menjelaskan penyebab masih minimnya pengunjung ada beberapa faktor. Salah satunya biaya untuk menikmati wisata susur sungai terlalu mahal.

Selain itu fasilitas penunjang untuk wisata susur sungai di bagian hulunya belum disediakan oleh pemerintah. “Setiap ada orang pasti selalu bertanya di sana ada apa? apakah ada buayanya, apakah ada monyet, apakah ada orangutannya,” tutur Utuh panggilan akrab Yurdi ini.

Pertanyaan orang yang biasa menggunakan jasa perahunya itu selalu Yurdi jawab dengan nada kelakar. “Di sana hanya ada buaya darat,” kelakarnya.

Menurut Yurdi, idealnya selain wisata susur sungai, di daerah hulu misalnya di wilayah Tumbang Rungan disediakan fasilitas jembatan agar para wisata bisa berhenti sejenak mengunjungi kampung-kampung di pinggiran sungai dan dapat menikmati hasil olahan masyarakat berupa makanan khas atau oleh-oleh untuk para wisatawan. Sebab selama ini mereka hanya bisa menikmati pesona alam dari perahu.

Jika Pemerintah mau mengevaluasi konsep wisata susur Sungai Kahayan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka Yurdi optimistis lambat laun objek wisata susur sungai di Kota Palangka Raya ini akan lebih menggeliat dan diminati wisatawan lokal, wisatawan nusantara bahkan wisatawan manca negara.

Saat ini sentuhan yang diharapkan Yurdi kepada Pemerintah misalnya fasilitas jembatan yang masih minim. Jumlah jembatan harus ditambah. Soalnya yang ada saat ini hanya ada dua. Satu milik Pemerintah Kota dan satunya milik Provinsi. “Selain itu kondisi jembatan sangat kecil, cuma cukup untuk tambat satu perahu saja. Jadi yang lainnya tidak bisa ikut tambat antre untuk menunggu penumpang. Coba kalau jembatannya lebar dan panjang, pasti semua bisa tambat di jembatan,” tuturnya.

Di sisi lain Yurdi mengharapkan pembangunan sarana wisata di Kota Palangka Raya harus merata, tidak seperti sekarang ini. “Coba lihat di Kereng Bengkirai, di sana objek wisatanya dibagusin dan difokuskan di sana saja, sedangkan di tempat lain belum disentuh,” tandasnya. (MC Isen Mulang)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*