INFO
Penari Tertua Diantara Tim Tari Hyang Dadas

Penari Tertua Diantara Tim Tari Hyang Dadas

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Tari Hyang Dadas dari Provinsi Kalimantan Tengah  berhasil memukau saat tampil dihadapan tamu undangan serta masyarakat menjelang penurunan bendera HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia, langsung di Istana Negara, Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 17 Agustus yang lalu.

Tim kesenian Kalteng yang berjumlah 275 orang, terdiri dari penari dan pemusik ini, mampu mempertunjukkan performance dan formasi tari kolosal yang apik serta prima. Alhasil membuat ribuan pasang mata di Istana  Negara Jakarta seolah terhipnotis dan terpukau, ketika melihat gerak yang eksotis, diiringi hentakan musik tradisional khas Dayak Kalteng yang energik.

Terlepas dari kesuksesan penampilan tari Hyang Dadas di Istana Negara tersebut, dari ratusan penari dan pemusik tim kesenian Kalteng yang tampil energik saat itu, terlihat satu orang diantaranya sempat mencuri perhatian penonton yang memenuhi halaman Istana Negara.

Dia adalah Russella Narpan Apoi, sosok perempuan yang  paling tertua dari 275 orang, penari dan pemusik tim kesenian Kalteng.
Rusella lahir di Kuala Kapuas pada 08 November 1939. Meski usianya sudah memasuki 80 tahun, ia tampak tampil menari dengan gemulai, tidak kalah dengan ratusan penari Kalteng lainnya yang usianya rata-rata relatif muda. Bahkan dari performance tari Hyang Dadas di Istana Negara saat itu, Russela tampak mampu mengimbangi derap gesit penari muda belia, remaja dan dewasa dari tim tari Hyang Dadas lainnya. Lenggak lenggoknya pun tampak prima, sehingga ia menjadi salah satu penari yang mengundang detak kagum penonton saat itu.

Terlebih tampil dengan mengenakan kostum tersendiri yang berbeda dengan ratusan penari Kalteng lainnya, membuat Russela terkesan memiliki penampilan khusus tersendiri dalam tim tari Hyang Dadas  tersebut. Russella sendiri adalah warga Kabupaten Kapuas, ia diajak  pihak Abid Igal Dance Project yang memprakarsai Tari Hyang Dadas untuk bergabung pada tim kesenian Kalteng, yang terdiri dari perwakilan kabupaten/kota se Kalteng.

Sejak awal bergabung dengan tim kesenian Kalteng, Russella pun ikut aktif mengikuti latihan-latihan persiapan, yang dilaksanakan sejak dari Palangka Raya. Sampai pada hari H. Ia bersama tim kesenian Kalteng mampu mempersembahkan tari Hyang Dadas yang memukau.

“Sejak masa muda Russella adalah seorang penari Dayak Kalteng. Berbagai pengalaman pentas kesenian dan budaya sudah diikuti. Baik lokal, regional hingga nasional. Bahkan tampil di luar negeri,” ungkap Erli yang merupakan anak dari Russella, saat dibincangi, Rabu (21/8/2019).

Disebutkan, segudang prestasi  dalam dunia seni tari telah dilakoni oleh Russella, bahkan saat peletakan tiang pancang ibukota Palangka Raya tahun 1957, Rusellla merupakan bagian dari penari pada acara peletakan tiang pancang kala itu.

Prestasi lainnya lagi, yakni sebagai penari pada pekan pemuda di Surabaya yang merupakan event nasional pertama yang diikuti Russella pada tahun 1975.
Dalam perkembangannya Russella aktif tampil dalam tim tari, manakala penyambutan duta-duta besar, kedatangan Presiden, para menteri, serta tamu penting negara lainnya, saat mengunjungi Kota Kuala Kapuas pada dekade ordwe sebelumnya.

“Ibu saya ini semasa kariernya banyak sekali mengikuti festival tari regional maupun nasional,” tutur Erli.

Erli yang juga merupakan salah seorang pelaku seni dan pelatih tari dari Kabupaten Kapuas ini menuturkan, jika ibundanya itu sejak muda sangat mencintai budaya Dayak, sehingga dimasa kesehariannya hingga saat ini lebih banyak memberikan pada penguatan serta  pengembangan seni dan budaya di Kalteng pada umumnya dan Kabupaten Kapuas pada khususnya.

“Ibu Russela juga masih aktif memberikan latihan kepada para penari pemula, serta terus andil di dalam berbagai pengembangan kebudayaan seni dan kearifan lokal Suku Dayak,” imbuhnya.

Tambah Erli, ketika ibunya itu diajak untuk masuk tim kesenian Kalteng yang akan mempersembahkan tari Hyang Dadas, tentu menjadi sebuah kesempatan terbaik yang mesti dimanfaatkan. Apalagi bisa tampil di Istana Negara.

“Ya, ibu langsung menerima, ini adalah momentum penting untuk memperkenalkan budaya Kalteng,” ujarnya.

Adapun Garapan tarian kolosal Hyang Dadas ini melibatkan 275 penari serta pemusik dari berbagai sanggar seni di Kalteng. Dwi Tia Amanda Putri selaku pimpinan Abid Igal Dance Project dari tim kesenian Kalteng mengungkapkan, Tari  Hyang Dadas didasarkan pada kepercayaan suku Dayak Kalteng, yang bermakna doa penyembuh yang tak sekedar dipetik dari ritual wadian, tetapi menjadi sebuah narasi keberagaman.

Tari Hyang  Dadas itu sendiri kata dia lahir dari tradisi di tanah berkah, Kalimantan Tengah. Dimana garapan tari ini menghadirkan gemericik bunyi gelang wadian sebagai the voi.

“Irama Gelang yang seolah bernyanyi, bak sungai mengalir yang menjadi penghubung dan menyatukan suku Dayak di Bumi Isen Mulang. Hyang Dadas juga merupakan refleksi Kalimantan tengah dengan julukan Bumi Pancasila Tanah Berkah yang di dalamnya hidup dengan damai berbagai sub suku Dayak di aliran sungai Barito, Kahayan, dan Kapuas,”jelas Dwi.

Tari Hyang Dadas ini sebelumnya tambah Dwi, telah meraih banyak prestasi. Antara lain juara umum pertama dari pulau Kalimantan dalam gelaran Parade Tari Nusantara 2018 dengan meraih penghargaan penata tari terbaik, penata musik unggulan, penata rias dan  busana terbaik, penyaji zona kalimantan terbaik, dan penyaji terbaik. (MC. Isen Mulang/ by. Ferry)

 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*