INFO
Prosesi “Tabuh” Tiwah Massal Memikat Wisnus

Prosesi “Tabuh” Tiwah Massal Memikat Wisnus

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Tidak bisa dipungkiri beragam tradisi atau ritual bahkan dunia supranatural di tanah Dayak memiliki kekhasan tersendiri.

Seperti halnya ritual atau upacara Tiwah, tentu menjadi kebanggaan bagi suku Dayak karena hingga kini mampu dipelihara dan dilestarikan bahkan dijaga secara berkelanjutan, terutama oleh  umat Kaharingan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalteng, Guntur Talajan mengungkapkan, setiap pelaksanaan ritual Tiwah selama ini, tidak lepas dari  perhatian tinggi masyarakat luas untuk mengikutinya.

“Ada trend positif gelaran ritual ini mampu memikat daya tarik masyarakat dan para wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman),” ujarnya.

Bisa dilihat kata Guntur, pada pelaksanaan Tiwah Massal di Desa Sigi Kabupaten Pulang Pisau, yang selama tahapan-tahapan ritual mampu memantik perhatian wisman.

“Belum lama ini belasan wisatawan asal Jerman dan Belanda antusias menyaksikan dan mengikuti beberapa proses ritual Tiwah Massal di Desa Sigi,” ucapnya.

Terlebih prosesi ritual Tiwah saat ini lanjut Guntur sudah memasuki tahap Tabuh, maka sebagaimana biasanya masyarakat tumpah ruah untuk menyaksikan.

“Hingga pada prosesi tabuh dua, dimana masyarakat termasuk di dalamnya wisnus dan wisman diperkirakan mencapai ribuan orang memenuhi lokasi Tiwah. Nah, ini menunjukkan trend positif bahwa pelaksanaan Tiwah Massal ini kian mematik perhatian,” ucapnya, Rabu (27/11/2019).

Sekedar untuk pengetahuan lanjut Guntur, Tabuh  adalah bagian dari tahapan panjang pelaksanaan Tiwah Massal. Tabuh itu sendiri adalah  proses penombakan hewan yang dilakukan sebelum puncak ritual Tiwah.

“Saat tabuh satu yang lalu ada  8 ekor hewan kerbau (Hadangan) telah dilakukan prosesi penombakan, sedangkan pada tabuh dua ada tiga hewan kerbau,”sebutnya.

Dari banyaknya tahapan-tahapan pelaksanaan Tiwah Massal selama ini sambung Guntur, maka tahapan atau prosesi Tabuh adalah tahapan atau prosesi yang banyak menarik minat masyarakat untuk menyaksikan.

“Nah, inilah salah satu kekhasan dari ritual Tiwah yang perlu kita promosikan terus menerus, mengingat ritual ini hanya ada di Kalteng,” tuturnya.

Secara umum lanjut dia, ritual Tiwah merupakan upacara penyucian dan pengantaran roh leluhur ke alam surga. atau secara khusus dapat dikatakan, Tiwah merupakan proses dikembalikannya roh orang yang sudah meninggal kepada Sang Pencipta  atau dikenal dengan dengan Ranying Hattala Langit.

“Selain memang merupakan upacara keagamaan yang harus didukung pemerintah, Tiwah ini kita harapkan mampu memikat para wisatawan. Maka itu harus kita dukung dan dikembangkan terus,” tukas Guntur.

Patut untuk dibanggakan tambah dia, kini ritual Tiwah Massal di Kalteng telah diakui sebagai ritual yang harus dilestarikan. Sehingga oleh Kementrian Kepariwisataan (Kemenpar), ritual tersebut masuk Calenderr Of Even (CoE) yang rutin digelar dengan tujuan akhir menarik minat wisatawan. (MC. Isen Mulang.1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*