INFO
Retribusi Minuman Beralkohol Ditargetkan Rp1,5 Milyar per Tahun

Retribusi Minuman Beralkohol Ditargetkan Rp1,5 Milyar per Tahun

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Kasi Bina Usaha, Pemasaran, Promosi dan Pendaftaran Perusahaan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palangka Raya, Ineke Kusumawati mengatakan, jika retribusi bagi pendapatan asli daerah (PAD) yang di dapat selama ini cukup tinggi.

“Retribusi dari usaha minol ini pada setiap tahunnya dipatok mampu meraup sebesar  Rp 1.5 Miliar,” ungkapnya, Senin (25/3/2019).

Dijelaskan Ineke, untuk pemberian ijin tempat penjualan minuman beralkohol (ITP-MB ) menjadi kewenangan Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PM-PTSP) Kota Palangka Raya. Disperindag kota kata dia hanya menangani dibagian retribusi saja.

Retribusi minol tersebut mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 23 tahun 2014 tentang retribusi izin tempat penjualan minuman beralkohol, mengatur ketentuan pungutan retribusi terhadap tiga macam jenis atau golongan minol.

Golongan A memiliki kadar alkohol atau etanol 1- 5 persen, salah satunya minol jenis bir, kemudian golongan B memiliki kadar alkohol atau etanol  5-20 persen jenis minuman wine dan anggur sedangkan golongan C, yaitu brandy, whisky, cognac, vodca mengandung kadar alkohol antara 20-55 persen.

“Jadi penarikan retribusi setiap jenis atau golongan minol berbeda. Perlu diingat, kebanyakan yang dijual oleh pelaku usaha adalah golongan A dan B. Sedangkan golongan C lebih banyak beredar di hotel-hotel berbintang,” ujarnya.

Disebutkan Ineke, bila berdasarkan data rekapitulasi penarikan retribusi terhitung sejak Januari-Desember 2018 yang lalu, jumlah hasil retribusi secara keseluruhan hanya mampu mencapai Rp 1,2 Miliar lebih, sehingga tidak mencapai target Rp 1.5 Miliar.

Retribusi ini jelas dia ditarik dari sejumlah usaha minol, seperti pada karaoke, lokalisasi, toko, restaurant, café dan hotel. Namun untuk retribusi ditahun ini ada kecenderungan sedikit berkurang, terutama berkaitan dengan adanya penutupan lokalisasi .

Begitu pula untuk leges setiap botol minol, yang kini sudah ditangani langsung oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai, sehingga target pendapatan yang bersumber dari usaha minol dikhawatirkan tidak mampu tercapai.

“Terlebih tidak sedikit pelaku usaha  minol yang tidak melanjutkan lagi usahanya, dengan alasan tidak laku atau merugi,” bebernya.

Ditambahkan Ineke, meskipun pihak Disperindag melakukan penarikan retribusi usaha minol tersebut cukup tinggi, namun pengawasan terhadap keberadaan peredaran minol atau miras terus dilakukan pihaknya secara intensif. (MC. Isen Mulang.1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*