INFO

Ritual Manyanggar oleh Damang Kepala Adat

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Selama tiga hari, Damang Pahandut, Kota Palangka Raya, Marcos S Tuwan menyelenggarakan acara Ritual Manyanggar 15-17 Maret 2017. Acara Adat Dayak khas Hindu Kaharingan ini digelar sebagai ungkapan syukur kepada Sang Maha Pencipta atas terpilihnya Marcos S Tuwan sebagai Damang Kepala Adat Kecamatan Pahandut.

Di hari pertama, tahapan acara ritual dimulai dengan tantulak lapik gawi (menghilangkan pengaruh tidak baik selama dilaksanakannya upacara). Setelah itu dilanjutkan dengan menarung palus marawei (memberitahukan atau mengundang roh leluhur untuk berkenan hadir, menjaga, dan melindungi) selama pelaksanaan upacara digelar. Kemudian acara dilanjutkan dengan proses mapas, nyalentup, manatumbur, dan lain-lainnya.

“Ritual ini tujuannya untuk membersihkan pengaruh negatif. Selain secara manusia juga secara sangiang juga ikut membersihkan, jadi dobel, simbol sangiang dilakukan oleh Basir melalui simbol upacara itu. Jumlah Basir harus ganjil minimal 3 orang, tapi yang sekarang ini ada 5 Basir,” tutur Parada, Ketua Majelis Daerah Hindu Kaharingan Kota Palangka Raya, Rabu (15/3/2017).

Di hari kedua, acara ritual dilanjutkan dengan Balian narinjet sahur. Ritual ini dilaksanakan pukul 5.00 WIB. Tujuan ritual ini untuk memberitahukan kepada roh leluhur jika akan ada proses pemotongan hewan kurban. Selanjutnya mempersiapkan sesajen.

Setelah itu daging pada bagian tertentu hewan kurban diambil secukupnya, untuk dimasak sebagai sesajen pokok, guna dipersembahkan kepada Sang Pencipta dan seluruh manfestasiNya.

Acara selanjutnya Balian nasaran sahur kuman (mempersilahkan mereka (roh) leluhur ikut makan). Setelah itu dilanjutkan dengan mangarunya sahur. Maksud ritual ini menurut Parada sebagai ungkapan terima kasih pemilik hajat kepada mereka (roh) yang sudah datang dan melindungi dalam menjalani kehidupan di dunia.

Malam harinya acara dilanjutkan dengan balian manjung takuluk metu. Ritual ini dilaksanakan malam hari karena besok harinya lubang yang sudah disiapkan untuk menanam kepala sapi sudah digali diberitahukan kepada penguasa bumi (naga galang petak) untuk bisa menerimanya.

Ritual balian manjung takuluk metu ini digelar sebagai ungkapan rasa terima kasih pihak yang menyelenggarakan ritual karena pada prinsipnya manusia sangat menghargai bumi.

“Awalnya alam ini lestari menjadikan alam terbangun, tapi kita tidak merusaknya. Kita tetap membiarkan mereka (roh) tetap ada dan berbaur dengan kita, tidak menggangu, tapi mereka yang ikut menjaga kita,” tutur Parada.

Di hari ketiga, acara dilanjutkan dengan penanaman kepala hewan kurban, persiapan pabuli sangiang, dan pabuli sangiang atau membayar laluh lasang.

Parada menjelaskan melalui ritual pabuli sangiang ini mereka (roh) leluhur yang digunakan dalam acara ini baik yang kelihatan maupun yang tidak dipersilahkan pulang setelah kepala hewan kurban ditanam, termasuk para Basir pun juga ikut pulang. Acara selesai. (MC Isen Mulang/yk/ndk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*