INFO
Ritual Sakral Suku Dayak Agar Dilestarikan

Ritual Sakral Suku Dayak Agar Dilestarikan

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Ritual Tiwah memiliki nilai religius dan sakral, dimana bagi penganut agama Kaharingan di Provinsi Kalimantan Tengah, ritual Tiwah dimaksudkan untuk mengantar jiwa seseorang ke tingkat kehidupan selanjutnya. 

Menurut Ketua Majelis Besar Hindu Kaharingan (MBHK) Kota Palangka Raya, Parada, bagi masyarakat Dayak apabila belum melakukan prosesi Tiwah bagi keluarganya yang sudah meninggal, maka arwahnya (liaw) diyakini tetap ada di dunia dan tidak dapat menuju ke lewu tatau (Surga) bersama Ranying (dewa tertinggi dalam kepercayaan Kaharingan).

“Ritual Tiwah untuk  mengantar jiwa seseorang ke tingkat kehidupan selanjutnya, dilaksanakan sangat sakral dimana setiap prosesi upacara ritual harus dilalui,” jelasnya, Sabtu, (17/11/2018).

Kata Parada, bukanlah hal yang berlebihan jika ritual Tiwah ini merupakan peradaban agar dilestarikan oleh setiap generasi masyarakat Dayak, mengingat ritual ini sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun silam. 

“Tiwah merupakan upacara kematian tingkat terakhir, dimana bagi umat Kaharingan bertujuan untuk melepas kesialan bagi keluarga yang ditinggalkan,” terangnya lagi.

Diungkapkan Parada, pelaksanaan ritual Tiwah itu sendiri melalui prosesi yang cukup panjang dan berhari hari dilakukan secara sakral.

Sebelum upacara tiwah dilaksanakan, terlebih dahulu digelar ritual lain yang dinamakan upacara tantulak. Dimana menurut kepercayaan Kaharingan, upacara tantulak adalah untuk mengantar arwah yang meninggal dunia menuju Bukit Malian, untuk bisa bertemu dengan Ranying Hattala Langit (Tuhan umat Kaharingan).

Puncak ritual Tiwah, itu sendiri ditandai dengan mengangkat tulang-belulang kerangka orang yang sudah meninggal dari liang kubur. Kemudian kerangka itu disucikan, dan selanjutnya ditaruh di dalam sandung atau rumah kecil dengan tidak menyentuh tanah.

Hanya saja, sebelum puncak ritual Tiwah dilakukan, maka semua itu dilalui dengan prosesi awal. Dimana bagi keluarga yang melaksanakan ritual Tiwah, terlebih dahulu harus membuat balai nyahu (sandung), melakukan tarian manganjan mengelilingi sangkai raya (tempat anjung-anjung dan persembahan untuk Ranying Hatalla berada).

Kemudian membuat sapundu (patung berbentuk manusia). Sapundu berfungsi sebagai tempat mengikat kerbau, sapi, ayam, atau babi yang nantinya dalam ritual ini akan dikurbankan. 

“Ritual Tiwah ini bukan pekerjaan mudah. Diperlukan persiapan panjang dan prosesi tiwah ini sendiri memakan waktu panjang. Wajar kalau kita lestarikan dan pertahankan bersama,” pungkas Parada. (MC. Isen Mulang.1)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*