INFO
Tari “Duran” Refleksi Ungkapan Rasa Syukur

Tari “Duran” Refleksi Ungkapan Rasa Syukur

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Gerak gerakan yang eksotis diiringi hentakan musik khas Kalteng membahana di Taman Budaya Provinsi Kalteng di Palangka Raya.

Seiring dengan itu tampak terlihat begitu membludaknya, penonton yang memenuhi tribun taman budaya itu. Saking membludaknya penonton, sampai ada yang rela duduk di lantai outdoor depan panggung.

Antusias penonton ini tidak lain untuk menyaksikan lomba tari pedalaman, yang merupakan salah satu mata lomba pada even akbar Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, yakni Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2019 yang digelar beberapa waktu lalu.

Event FBIM itu sendiri baru saja selesai digelar, namun even yang sarat dengan lomba seni, budaya serta kearifan lokal tersebut menyisakan beragam pujian serta detak kagum bagi mereka yang turut menyaksikan.

Salah satunya kategori lomba tari pedalaman yang masih membekas bagaimana kategori lomba itu mampu menghipnotis ribuan penonton, sehingga dinilai sukses dalam pelaksanaannya serta sukses dalam mengundang ketertarikan orang untuk menyaksikan secara langsung.

Untuk lomba tari pedalaman ini, maka perjuangan sanggar tari dari Kabupaten Murung Raya (Mura), tidak sia-sia. Mereka menjadi yang terbaik dari yang baik pada setiap perwakilan kabupaten/kota se Kalteng.

Sanggar “Tira Tangka Balang” begitulah nama sanggar dari perwakilan Kabupaten Murung Raya, yang berhasil mengundang decak kagum penonton dan dewan juri.

Sanggar ini mengerahkan sepuluh orang penari serta sembilan orang pemain musik. Terlihat mereka semua aktraktif dan mampu menyuguhkan tari serta musik yang eksotis penuh makna.

Terlebih didukung dengan improvisasi serta media dekorasi maupun simbol-simbol tari yang dibawa ke panggung, menjadikan penampilan mereka membuat ribuan pasang mata terpukau.

“Tari Duran”, begitu judul atau tema yang dibawakan para penari tari pedalaman Kabupaten Murung Raya ini
Penata musik, penata tari dan artistik dari karya ini digarap sendiri, oleh para seniman dan budayawan dari Mura,”jelas Ritha Kabid Promosi dan Pemasaran Pariwisata pada Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Murung Raya.

Sinopsis tari Duran itu sendiri diangkat dari tradisi adat budaya kehidupan masyarakat Dayak di Kabupaten Murung Raya, dengan merefleksikan sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Besar. Duran digambarkan sikap demokrasi, kebersamaan, kerukunan, keeratan yang kuat dalam masyarakat.

Duran itu sendiri merupakan puncak prosesi adat dari semua pesta yang dilaksanakan oleh suku Dayak Siang, Uut Danum, dan Punan Karebo, dimana pada prosesi acara adat ini beranjak dari filosopi bahwa bahan duran yang terbuat dari beras ketan, yang bila dimasak akan lengket susah untuk dipisahkan .

Begitupula dengan harapan dan doa para pembuat pesta, yang berkeinginan dapat mempererat tali persaudaraan, kerjasama yang baik, hidup rukun, damai dan sejahtera yang berkesinambungan dalam kehidupan.

Secara khusus Duran dalam kehidupan suku Dayak di Murung Raya adalah suatu benda yang terbuang dari tiang kayu bulat yang diikat ruas pulut/lamang (Pulut = Ketan) dalam jumlah banyak sehingga menjadi satu ikatan bulat pada bagian bawah tiang kayu. Duran didirikan tepat berada ditengah-tengah rumah.

Menurut kepercayaan Suku Dayak, Duran dibuat diserta dengan minuman tradisional berupa tuak, sangkai atau hadiah dari tamu undangan yang hadir saat tradisi itu digelar.Tradisi budaya inipun masih tetap ditemukan pada masyarakat Dayak di Murung Raya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalteng Guntur Talajan, mengatakan jika tari pedalaman yang ada di provinsi yang berjulukkan “Bumi Tambun Bungai itu sangat layak jual dan diperkenalkan, seperti halnya tari pedalaman Duran.

“Kita berharap pertunjukkan tari pedalaman dapat memberikan warna tersendiri bagi kemajuan seni budaya di Kalteng dan membawa keuntungan bagi para penggiatnya,” ujar dia.

Cici salah seorang penonton, lomba tari pedalaman mengaku sangat terpukau menyaksikan tari pedalaman, bahkan dirinya total menyaksikan penampilan seluruh peserta tari pedalaman pada saat FBIM.

“Saya pikir yang perlu diperhatikan, kapasitas penonton, panggungnya terlalu rendah, kalau tata panggung sudah bagus,” ucapnya. (Penulis Ferry Santoso MC Palangka Raya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*