INFO
Terkait Penutupan Lokalisasi, WTS Perlu Dibekali

Terkait Penutupan Lokalisasi, WTS Perlu Dibekali

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial (Kemensos) RI telah menginstruksikan kepada pemerintah daerah untuk melakukan penutupan lokalisasi dengan  target selesai di tahun 2019.

Untuk Provinsi Kalteng itu sendiri ada beberapa daerah yang akan menindaklanjuti instruksi Kemensos terkait penutupan lokalisasi tersebut, salah satunya lokalisasi di Kota Palangka Raya.

Terkait rencana lokalisasi ini anggota DPRD Kota Palangka Raya Alfian Batnakanti mengatakan, pihaknya akan mendukung, jika rencana pemerintah kota setempat untuk menutup lokalisasi sebagai tindak lanjut dari program Indonesia bebas lokalisasi prostitusi di tahun 2019.

“Kita sangat mendukung penutupan rencana lokalisasi ini dengan tuntas di tahun 2019,”ungkap Alfian saat dikonfirmasi,Rabu (13/3/2019).

Namun begitu kata Alfian, agar tidak menimbulkan gejala atau dampak sosial, terutama pada mereka yang bekerja  di lokalisasi (pekerja seks komersial/PSK red), maka seyogyanya dilakukan pendekatan yang humanis dan menyentuh sehingga proses penutupan lokalisasi berjalan lancar

“Ya, para WTS ini kan punya hak hidup, jadi bagaimana upaya mengayomi mereka agar ketika dikembalikan ketempat asal yang bersangkutan tidak lagi berpikiran kembali dengan pekerjaannya itu,”ujarnya.

Disinilah lanjut Alfian, peran penting pemerintah daerah melalui instansi terkait untuk mampu berbuat objektif, dalam artian mampu memberikan bekal dalam banyak hal kepada para pelaku usaha prostitusi tersebut.

“Bekal yang dimaksud, tidak berarti harus berupa uang, tapi bagaimana memberikan pelatihan dan ketrampilan bagi mereka agar nantinya dapat dijadikan bekal untuk melangsungkan kehidupannya.

Lanjut Alfian mengatakan, pemberian bekal tersebut memiliki manfaat besar bagi para pekerja prostitusi, terutama ketika mereka ditempatkan ditengah-tengah kehidupan masyarakat dalam suasana baru.

“Kapan perlu perkuat kembali pemberian pelatihan dan keterampilan, seperti menjahit, salon, memasak atau bentuk keterampilan lainnya, yang nantinya menjadi modal awal untuk melakukan perubahan hidup,”cetusnya.

Harus diakui tambah Alfian, rencana penutupan lokalisasi ini tentu tidak lepas dari soal kemanusiaan terutama nilai-nilai sosial kehidupan.

“Memang aturan tetap dilaksanakan, namun harus mempertimbangkan azas lainnya, terutama nilai-nilai manfaat. Intinya kita setuju adanya penutupan lokalisasi ini, namun jangan sampai berdampak pada sosial kemanusiaan,”pungkasnya. (MC. Isen Mulang.1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*